Mulai dengan yang sederhana dan yang dekat. Konsep diri dalam pengertian yang paling sederhana adalah bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Gambaran yang diperoleh dari memandang diri sendiri itulah yang disebut konsep diri. Kata orang, konsep diri adalah hal yang sangat menetukan. Meskipun seluruh dunia di sekitarnya telah berubah namun jika konsep diri seseorang tidak berubah maka dia tetaplah orang yang sama sekali tidak berbeda dengan orang yang hidup pada saat belum terjadi perubahan yang signifikan. Dalam kaitannya dengan topik ini, maka kita akan membicarakan tentang bagaimana seorang istri memandang dirinya. Bukan pandangan orang lain tentang dirinya, melainkan pandangannya sendiri.
Suami dan istri adalah perempuan dan laki-laki yang sudah menikah dan hidup dalam masyarakat. Dalam masyarakat yang sudah modern, persoalan-persoalan klasik seperti yang ditimbulkan oleh perbedaan jenis kelamin tidak lagi menjadi sesuatu yang sangat penting sebab setiap individu, secara hukum dan secara biologis, saat lahir lantas diklasifikasikan sebagai laki-laki atau perempuan dan seluruh rangkaian ekspektasi gender dipetakan ke dalam perbedaan seks primer ini. Artinya, harapan tentang bagaimana kita di masa depan telah terbentuk sejak awal saat kita lahir. Oleh karenanya, perempuan [istri] harus mampu melihat dirinya sebagai perempuan [istri] sesuai harapannya, jika ingin menolak atau merubah konstruksi yang menindasnya.
Kekerasan terhadap perempuan yang diperangi kini semakin mendekati tempat-tempat persembunyiannya yang aman. Kekerasan dalam skala yang lebih luas setidaknya berhasil diredam dengan kesadaran hukum dan HAM yang, sepertinya, lebih ampuh bekerja di ruang-ruang publik [sosial dan masyarakat], namun tempat persembunyian kekerasan atas perempuan yang lebih aman adalah wilayah relasional [keluarga]. Ada banyak penyebabnya, antara lain : mitos rahasia keluarga. Ini selubung paling ampuh yang membuat hukum tidak dapat mengindera citra kekerasan yang terjadi di sana walaupun sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam keluarga juga kekerasan atas perempuan sering sekali atau bahkan paling banyak terjadi. Oleh karena itu, perang melawan kekerasan terhadap perempuan ini semakin mengambil arah terbalik, yakni perang melawan diri sendiri. Maksudnya adalah peran tradisional perempuan sudah terbukti bukan kodratnya dan karena itu beban kerja yang mengambil bentuk kekerasan yang unik dalam lingkup relasional berhasil ditaklukkan dan yang tinggal kini adalah mitos rahasia keluarga [selubung yang melanggengkan kekerasan atas istri]. Perang melawan diri sendiri ini adalah perang melawan konsep diri dalam rangka memahami diri secara baru dalam hubungan dengan orang lain. Kembali pada pemahaman sebelumnya : Perempuan [istri] harus mampu melihat dirinya sebagai perempuan [istri] sesuai harapannya, jika ingin menolak atau merubah konstruksi yang menindasnya. Di sinilah konsep diri memegang kendali. Bagaimana seorang perempuan [istri] memandang dirinya sendiri dalam relasi dengan orang-orang di sekitarnya. Kondisi dikonstruksi berdasarkan kontribusi setiap orang. Artinya, kondisi di mana kekerasan terhadap istri terkonstruksi bukan hanya atas kontribusi suami, tetapi dalam hal ini pun istri turut berkontribusi dalam mengkonstruksi kekerasan atas dirinya sendiri dan letak persoalannya adalah konsep diri. Sebelum menikah, seorang perempuan memiliki ekspektasi dan tidak jarang ekspektasi tersebut mewujud dalam penaklukkan diri di bawah suami. Istri yang baik adalah istri yang mampu menjaga kehormatan suaminya, yang taat dan berbakti pada suami sekalipun suami melakukan kesalahan istri hanya harus diam dan yang bisa dilakukannya hanyalah mengeluh dalam hati atau kepada istri tetangga atau kepada Tuhan, istri lebih takut perceraian dan karena itu takut mengambil tindakan tegas sebagai reaksi terhadap berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan suami atas dirinya, dan yang terakhir dan yang paling konyol adalah istri percaya bahwa ia sedang menjaga rahasia keluarga ketika tidak mengatakan kepada siapapun tentang kekerasan yang dialaminya dalam kehidupan keluarga, padahal saat bertengkar dan dipukul oleh suaminya semua tetangganya mendengar tetapi berpura-pura tidak mendengar dengan asumsi yang juga keliru bahwa mencampuri urusan orang lain adalah tidak etis padahal akan jauh lebih baik jika tetangganya melapor penganiayaan yang terjadi terhadap manusia di sebelah rumahnya.
Tantangan baru, khusus untuk perempuan [istri] hari ini, bukan lagi budaya dan konstruksi sosio-politis dalam pengaruhnya yang eksternal tetapi internalisasi nilai-nilai tersebut dalam diri perempuan yang lantas membentuk identitas dirinya. Oleh karena itu, perempuan [istri] jika ingin benar-benar menjadi perempuan, maka mendefenisikan konsep diri secara baru adalah harga mati sebab hanya dengan begitu perempuan mampu menuntaskan perjuangan panjang atas nama kesetaraan dan keadilan yang mulia itu. Perempuan harus mampu memandang dirinya sesuai harapannya, bukan sesuai harapan semu yang dikonstruksi dalam budaya dan komunitas yang mengunggulkan laki-laki, serta relasi dan mentalitas budak yang jelas-jelas dikenakan padanya untuk meminggirkannya dari kehidupan yang juga adalah miliknya.
Akhirnya saya ingin berpesan kepada semua istri di dunia :
Selamat menemukan rahasia keluarga anda dan berbahagialah !
“…kekerasan terhadap anda bukan rahasia keluarga yang mesti dijaga, itu hanya omong kosong yang diciptakan untuk membungkam anda. Rahasia keluarga tidak harus berisi cerita tentang biru legam yang melingkari kelopak mata anda, melainkan rahasia keluarga adalah kebahagiaan, itulah mengapa tidak banyak keluarga mampu menemukannya.”
09.58
e-weslly

Posted in: 


0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan komentari tulisan ini
Terima kasih!