Manusia adalah “ada-menuju-kematian!“ Begitu kata Martin Heidegger, seorang filsuf besar abad 20 yang pemikirannya masih berpengaruh hingga saat ini. Kematian dan kehidupan adalah pasangan sehidup-semati. Manusia menerima kehidupan dan kematian pada saat yang bersamaan. Saya ingin berbagi perenungan tentang kematian dengan mulai engatakan bahwa cerita tentang manusia dimulai dengan pemberian kehidupan dan kematian oleh Sang Pencipta.
Dalam teks-teks suci tertulis bahwa kematian adalah akibat dari dosa. Dari situ, banyak orang lalu berusaha menghubungkan semua kematian dengan dosa: atau kejahatan-kejahatan yang sengaja dilakukan seseorang. Namun, jika memang demikian, maka sebenarnya hal ini tidak mampu menjelaskan mengapa kematian harus dialami janin dalam kandungan, padahal ia belum melakukan apa-apa. Alangkah baiknya jika dosa dalam pandangan ini kita pahami sebagai keterbatasan atau yang biasa disebut kedosaan (ke-ada-an yang berdosa atau yang terbatas) yang dialami oleh semua manusia, sejak dalam kandungan. Dengan begitu maka kita terbebas dari pandangan bahwa setiap orang, mati karena kejahatannya dan kita juga tidak memahami kematian sebagai “hukuman” dari Tuhan, melainkan memahami kematian dengan lebih manusiawi. Kematian adalah ungkapan paling puncak tentang keterbatasan manusia.
Saat kehidupan di mulai saat itu juga kematian menyertainya. Kisah taman Eden adalah kisah tentang bagaimana kehidupan dan kematian hadir bersama-sama. Dengan sederhana kita bisa bertanya: Kapan “ular” diciptakan? Ular yang menggoda manusia sehingga jatuh ke dalam dosa yang membuat manusia harus menderita dan mati. Dengan membaca ulang teks-teks suci, maka kita akan tahu bahwa kehidupan dan kematian dimulai pada saat yang sama. Saat menerima kehidupan, saat itu juga kematian adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditolak. Semua manusia yang hidup ternyata harus bersedia untuk mati.
Kenyataan ini memberi kepada manusia suatu kesadaran yang mendasar bahwa ia terbatas. Menyaksikan kematian, melayat, berduka cita, bahkan mengalami depresi berat atau gila karena kehilangan ayah, ibu, anak, saudara, sahabat, kekasih, dan orang-orang yang kita cintai adalah pengalaman tentang keterbatasan kita sebagai manusia.
Keterbatasan pada diri semua manusia membuatnya harus mengakui bahwa ia tidak berkuasa atas keberadaan diri sendiri. Kematian menyatakan bahwa hidup manusia itu ternyata tidak berasal dari dirinya sendiri. Hidup itu adalah pemberian dari sesuatu yang bukan manusia.
Dengan menyadari kematian sebagai keterbatasan hakiki maka pada akhirnya manusia akan tiba pada kesadaran bahwa ia merupakan ciptaan dari “yang lain”. Saat mengakui bahwa manusia adalah ciptaan, maka itu adalah saat yang paling tepat untuk bicara tentang Sang Pencipta yang diimani dalam jalan agama-agama dan spiritualitas.
Dalam perenungan tentang kematian itu, saya menemukan bahwa sekalipun kematian adalah ungkapan paling puncak dari keterbatasan manusia yang menyisakan duka yang mendalam bagi orang yang masih hidup, namun hal itu tidak menjadikan kematian sebagai sesuatu yang tidak bermakna dan sia-sia, sebagaimana dikatakan banyak orang. Dengan menyadari bahwa kematian adalah wujud dari keterbatasan ciptaan maka manusia beroleh kemungkinan untuk melihat seluruh perjalanan hidupnya secara utuh di dunia, baik masa lalu, masa kini dan masa depan. Kita semua adalah bagian dari masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
Kematian seorang manusia sebenarnya mengungkapkan kenyataan paling mendasar tentang dirinya dan tentang semua manusia. Kenyataan yang harus selalu disadari! Bahwa semua manusia terbatas! Masa hidupnya terbatas! Kemampuannya juga terbatas! Kematian manusia memang selalu disertai kehilangan yang mendalam bagi yang mencinta. Orang merasa kehilangan karena mencintai dan tidak rela melepas kepergiannya. Padahal cara mencintai orang yang telah mati adalah menerima kenyataan bahwa kematiannya adalah kenyataan bahwa ia terbatas dan kita yang mencintainya harus menerima dia apa adanya, termasuk keterbatasannya yang membuat ia harus mati. Sebab kematiannya berbicara tentang keterbatasan dirinya sebagai manusia yang harus diterima dengan besar hati.
Dengan menerima keterbatasan dari pribadi-pribadi tercinta, maka sesungguhnya kita sedang belajar menjadi manusia yang siap untuk hidup hari ini dengan segala keterbatasan yang ada pada diri kita sendiri sebagai milik bahkan belajar untuk hidup berdampingan dengan orang-orang lain yang juga terbatas, sama seperti kita. Keadaan yang sama-sama terbatas itu membelajarkan semua orang yang masih hidup untuk saling menolong untuk mengatasi kesukaran hidup. Keadaan terbatas itu pula yang menuntun manusia dalam kesadaran kepada penyerahan diri di bawah kuasa Sang Pencipta.
Manusia harus bersyukur karena kematian orang yang dicintainya mengajarkan bahwa kehidupan ini sangat berharga, meskipun ”manusia bisa dan pasti mati”, namun kehidupan hari ini adalah berharga sebab kehidupan hari ini turut menentukan keberlangsungan hidup di bumi ini setelah periode kehidupan tertentu. Apa yang dilakukan seseorang selama hidupnya turut menentukan apa jadinya dunia yang ditinggalkannya setelah dia mati. Kita dapat belajar dari Marthin Luther King, Mahatma Ghandi, dan orang-orang yang tidak berhenti melakukan kebaikan di dalam dunia yang penuh kekerasan. Hidup kita hari ini turut menyediakan kemungkinan bagi terbangunnya suatu kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Akhirnya, dalam keterbatasan kita pun bertanya : “Setelah mati nanti, apakah kita akan berjumpa lagi?” Ini misteri bagi yang masih hidup! Yang terpenting bagi kita adalah belajar dari masa lalu dan menemukan makna yang menguatkan kita untuk hidup di hari ini dengan bijaksana, dan menatap masa depan dengan penuh harapan. Keterbatasan tidak harus memaksa kita menjadi orang-orang yang gampang putus asa, melainkan menjadikan kita semakin mendekatkan diri pada sesama dan memiliki hidup yang berpengharapan dalam keyakinan yang sungguh kepada Sang Pencipta. Akhirnya, ada menuju mati adalah ada yang bermakna bagi terwujudnya hidup yang lebih baik dalam bentangan sejarah yang linier.
Mari berjalan menuju kematian sambil menabur benih kehidupan, sebab kita memang dilahirkan untuk mati tetapi tidak untuk mematikan. (WesJohn, 2011)
09.06
e-weslly

Posted in: 


0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan komentari tulisan ini
Terima kasih!