Pernah mendengar tentang sopi? Sudah pernah menikmatinya? Ada yang belum? Tentu ada! Tetapi dugaan saya, yang tergoda untuk membaca tulisan ini pasti punya pengalaman dengan sopi. Sudah kita tinggalkan dulu dugaan saya. Dalam tulisan ini, saya hendak berefleksi tentang perjalanan pencarian identitas (tentu identitas diri saya) dalam pergaulan dengan banyak orang yang sebagian besar adalah penikmat sopi. Semua sudah tahu apa itu sopi bukan? Ini juga dugaan saya, tetapi untuk sekadar berjaga-jaga, siapa tahu ada yang belum berkenalan dengan sopi atau yang mengenalnya dengan nama lain, ini saya perkenalkan sopi pada anda, secara singkat!
Sopi adalah minuman beralkohol yang dikreasi dari sari pati pohon mayang (enau) atau koli atau kelapa dengan cara disuling. Sopi memiliki kadar alkohol yang tidak konstan dan biasanya tergantung pada banyak atau sedikitnya sopi hasil sulingan. Tentang ini, yang terkenal adalah sopi kapala, hasil sulingan pertama atau kedua (botol pertama atau kedua). Saya kira untuk sementara ini cukup!
Saya memahami kebudayaan sebagai tugas! Tugas mencari dan menemukan persepsi-persepsi, serta menegaskan identitas personal atau komunal dalam realita faktual. Budaya bukan hanya pola baku yang dengannya semua hal terkait bisa dijelaskan. Semua manusia yang hidup sekarang adalah manusia yang berbudaya, karena orang-orang yang hidup sebelumnya juga berbudaya. Inilah mengapa banyak orang memahami dan menerima budaya sebagai warisan (tanpa hitam atas putih).
Kebudayaan mengisyaratkan hubungan yang kental dengan manusia. Manusia menjadi berbudaya karena bertumbuh dalam kebudayaan tertentu yang adalah konstruksi manusia sebelumnya (telah lebih dulu diwariskan dengan kebudayaan tertentu) yang dipandang dan diterima sebagai yang baik dan menopang hidup (pro hidup) atau menemukan budaya yang baru dalam warisan yang lama itu. Kebudayaan memanusiakan manusia pada satu sisi dan manusia menciptakan budaya pada sisi yang lain. Jadi, manusia dan budaya berada dalam ketegangan antara pewarisan dan penemuan atau tradisi dan reformasi, peneguhan (afirmasi) dan penyangkalan (falsifikasi), integrasi dan disintegrasi, dan seterusnya seperti itu. Pada titik ini, kebudayaan bukan hanya sebagai pola tindakan yang dijadikan sebagai acuan perilaku, namun kebudayaan juga adalah sistem gagasan yang harus dikembangkan dan diberdayakan. Inilah mengapa tulisan ini dimulai dengan menyatakan bahwa kebudayaan adalah tugas.
Namun, dalam perjalanan yang penuh ketegangan itu, selalu ada saja titik-titik di mana seseorang atau komunitas menemukan sesuatu yang dianggapnya sebagai puncak pencarian dan meneguhkannya sebagai identitas pribadi atau kamunitas. Titik puncak budaya inilah yang meresap ke dalam struktur masyarakat dan diwariskan sebagai keyakinan yang berkualitas, yang mengandung aspek seni (estetika), kebaikan (etik-moral), dan keluhuran (sakralitas) yang padanya relasi dan integrasi masyarakat tertaut.
Karena kebudayaan adalah pencarian kekal, maka tentunya ada suatu realitas yang menjadi impiannya. Realitas impian itu ialah kesempurnaan (perfection). Tujuanlah yang membuat budaya bisa disebut sebagai pencarian, karena tanpa tujuan, budaya tidak akan pernah bisa disebut sebagai pencarian, penemuan, peneguhan, penyangkalan, penyatuan, ataupun pemisahan. Salah satu tujuan kebudayaan adalah menemukan dan meneguhkan persepsi bersama sebagai identitas. Saya sedang mencari identitas sebagai orang Maluku dan ini refleksi saya atas perjalanan pencarian identitas itu.
Minum Sopi : Tradisi dan Reformasi
Dalam payung budaya masyarakat Maluku, minum sopi adalah sesuatu yang memiliki nilai sakral karena mengambil latar ritus budaya dan sekaligus profan karena mengambil latar sosio-ekonomi. Pada segmen sakralitasnya, minum sopi adalah aktivitas dalam bingkai ritus yang berimplikasi pada relasi dan integrasi komunitas. Sebut saja ritual ‘panas pela‘, ‘tutup baeleo‘, ‘maso minta‘, dan lainnya. Anda pasti pernah mengalaminya! Bahkan katanya di Negeri Ullath, pada saat ‘tutup baeleo’, sopi tidak pernah habis dalam tempayang, karena jika sudah hampir habis, tempayang akan digoyang dan sopi kembali tersedia. Ini pasti menyenangkan sekali bagi kita yang doyan minum sopi. Lanjut! Dari sudut pandang ini, saya memahami sopi sebagai medium penyokong integrasi yang adalah tujuan ritus-ritus tadi. Di sini , tampak pula korelasi antara yang sakral dan yang profan dari aktivitas minum sopi dalam payung budaya masyarakat Maluku. Sekian banyak orang yang minum sopi bersama-sama, dalam ritus-ritus tertentu, diintergrasikan ke dalam satu tujuan bersama, baik dalam jangka waktu singkat maupun panjang. Misalnya, dalam ritus ‘panas pela‘, minum sopi secara bersama-sama dipandang sebagai peneguhan/penegasan kembali relasi antar komunitas yang menargetkan integrasi jangka panjang, sedang dalam ritus ‘tutu baeleo‘, minum sopi secara bersama-sama bertujuan mengintegrasikan banyak orang untuk jangka waktu yang singkat, yakni melakukan pekerjaan bersama-sama, sekalipun memang harus diakui bahwa hal ini tidak dapat ditentukan secara pasti, khususnya untuk jangka waktu yang panjang, namun untuk jangka waktu yang singkat, hal ini dapat diamati pada saat berlangsung.
Pada segmen sosio-ekonomi, minum sopi pertama sekali adalah cara manusia Maluku berinteraksi dengan sesamanya. Minum sopi bersama adalah cara manusia Maluku menyambut, menikmati, merayakan, dan melepas berbagai hal. Menyambut orang yang datang, menikmati sore selepas bekerja, seteguk sebelum makan, merayakan pesta kecil-kecilan dengan keluarga, melepas kepergian sahabat baru, atau berjumpa sahabat lama. Tidak dapat disangkal lagi, sopi punya tempat istimewa dalam kehidupan banyak masyarakat Maluku. Ah, saya jadi ingat waktu masih muda dulu (hahae, berlagak tua!). Kalau tentang momen-momen indah yang dihabiskan bersama dan ada sopi di situ, saya yakin sebagian besar orang yang baca tulisan ini pasti punya kesan (entah minum atau hanya sekadar berada di bersama orang-orang yang minum sopi).
Selain istimewa secara sosiologis, sopi secara ekonomis juga menjanjikan. Banyak orang yang mengusahakan sopi (memproduksi dan menjual) berhasil menyekolahkan anak-anak dan memenuhi kebutuhan lainnya dari usaha ini. Yang ini tentu tidak saya lupakan, sebab pengalaman membuat saya tetap ingat bahwa sebagian ada banyak sahabat saya (waktu SMA dulu dan ada juga waktu kuliah dulu) yang dibiayai dengan uang hasil usaha sopi. Tentang ini, saya juga yakin bahwa anda pasti punya kesan yang sama. Lalu, kalau yang yang memproduksi sopi dan penjual sopi punya keuntungan, lantas bagaimana dengan peminum sopi? Temukan jawabannya di paragraf berikut!
Banyak hal yang sudah saya katakan (dan sejujurnya dilakukan dalam kehidupan sesehari) itu adalah bagian dari banyak tradisi yang telah kita warisi dari orang tatua. Kita menerima itu, menurut saya, karena kita percaya bahwa ada sesuatu yang baik yang terkandung di dalamnya. Minum sopi bersama-sama mengandung nilai-nilai ini : hospitality, brotherhood-sisterhood, friendship, happines, dan sebagainya, semuanya mencuatkan kebersamaa dengan sesama (saudara, tamu, sahabat, dlsb), moyang-moyang, gunung-tanah, dan sebagainya. Bukan hanya itu, minum sopi sendiri pun dipandang sebagai momentum yang di dalam prosesnya keakraban tercipta dan seterusnya sharing pengalaman diselingi canda tawa yang sesekali mewarnai percakapan. Ini sakral dan ini yang kita terima dan kita percaya sebagai kebaikan. Ini tradisi! Tradisi yang membuat hidup tidak monoton, melainkan dinamis.
Di depan saya sudah menamai bagian ini “minum sopi : tradisi dan reformasi” dan sebagai tradisi, minum sopi masih kita lakukan sampai hari ini. Saya masih minum sopi pada berbagai kesempatan dan mungkin akan terus minum sopi, tetapi… Nah, ini yang repot! Sebelum lanjut saya klarifikasi kecurigaan anda dulu, saya bukan lagi seorang pemabuk. Sekarang boleh dilanjutkan.
Kalau tradisi sudah kita bahas seadanya (syukurlah), maka saya lalu berpikir keras, kira-kira ada tidak yang perlu direformasi dalam budaya ini – budaya minum sopi? sebab sekarang makin menjadi-jadi saja. Mari kita tengok sebentar bagaimana minum sopi dipraktekkan sekarang ini.
Sesuai dengan apa yang diwariskan, kita memang masih minum sopi sampai hari ini, namun ada banyak yang berubah. Perubahan ini tidak terletak pada cara kita minum, sebab dari dulu bagitu saja modelnya; ada acara (kumpul keluarga, pesta, syukuran, dsb) kita minum, ketemu sahabat lama, kita minum. Dapat sahabat baru, kita minum. Begitulah kita. Namun, sekarang ini banyak dari kita yang melangkah jauh dari tradisi dan menciptakan situasi baru. Minum setiap hari, setiap waktu, setiap kesempatan tanpa kenal momentum. Setelah minum, ada yang balapan liar, ada yang cari gara-gara, ada yang pukul pacar, ada yang pukul istri, ada yang bakar rumah. Lho, kok bakar rumah? ada-ada saja. Ya, begitulah sekarang.
Memang tidak semua orang yang setiap kesempatan minum sopi melakukan hal-hal tadi dan orang yang seperti ini hanya sedikit. Jika harus dibandingkan, maka lebih banyak yang minum sopi dan bikin onar daripada yang minum dan berproses sesuai tradisi. Memang, persoalan minum sopi dan bikin onar juga bukan persoalan baru, tetapi bedanya dengan yang dulu ialah orang tatua biasanya memanfaatkan dengan baik momentum minum sopi bersama itu. Sedangkan sekarang minum sopi bersama itu lebih banyak dipandang sebagai media untuk mencapai tujuan tertentu : tambah nyali, mabuk, cari gara-gara, dan sebagainya. Ya, yang namanya minum minuman beralkohol selebihnya pasti mabuk dan orang tatua dulu juga mabuk karena minum sopi, tapi bukan itu tujuannya. Tujuannya adalah minum sopi bersama itu sendiri. Menikmati saat-saat santai, hangat, dan senda gurau lepas. Suasana asing mencair dan percakapan mengalir bak sungai. Inilah yang seharusnya kita warisi. Mungkin anda bisa menambahkan amatan anda tentang hal ini.
Berdasarkan kenyataan ini, saya merasa kita perlu sebuah reformasi budaya minum sopi. Tentang bagaimana cara mengajak yang lain untuk kembali pada apa yang orang tatua wariskan, nanti kita sama-sama pikirkan. Itu pun kalau anda setuju dan menganggap perlu. Untuk mengakhiri bagian ini, saya ajak anda untuk mengingat sekali lagi apa yang orang tatua bilang tentang minum sopi :
Satu sloki par sopu dada (satu gelas untuk hangatkan badan)
Dua sloki angka suara (dua gelas mulai banyak bicara)
Tiga sloki su lupa sudara (tiga gelas sudah tidak kenal saudara)
Lebe lai mandi dara (selebihnya pasti berdarah)
Jadi, minum yang secukupnya saja! Begitu dulu soal tradisi minum sopi dan perubahannya.
Tersesat dalam Pencarian Identitas
Dengan minum sopi, kita punya banyak teman. Dengan minum sopi, kita merasa diri sebagai seorang yang gaul, jago, bukan bencong, benar-benar laki-laki dan komunitas kita (TTM) adalah kamunitas ‘pria sejati’, tidak kurang, tidak lebih. Inilah yang saya kejar saat memilih jadi peminum sopi. Saya (pada waktu itu) remaja yang baru mulai mencari dan sayang sekali, saya mengejar sesuatu yang tidak seharusnya saya kejar. Ini karena kami semua tidak tahu ‘adat’. Kami bertumbuh dalam tradisi baik yang salah diwariskan atau mungkin yang telah terdistorsi seiring perubahan zaman. Ya, tradisi minum sopi ini, telah kami pahami secara keliru dan memproyeksikan pencarian identitas dalam kekeliruan itu. Alhasil, kami tersesat dalam pencarian identitas.
Shuresj Tomaluweng pernah bilang begini : “katong menemukan diri saat berjumpa dan bersama-sama dengan orang lain.” Ini bisa dibahasakan secara berbeda, begini : “beta bukan beta tanpa ale, beta menemukan beta dalam katong”. Begitulah orang Maluku. Wah, bisa dibayangkan bagaimana parahnya jika kita semua yang berjumpa dalam momentum minum sopi, tidak sadar bahwa budaya minum sopi yang kita kenal adalah keliru. Jika sudah begitu, maka akan jadi begini: beta deng ale sama-sama minum sopi, beta deng ale minom sopi supaya gaul, jago, hebat, dll., beta deng ale seng bisa gaul, jago, hebat, dan katong bukan lakii-laki, dll., kalo seng minum sopi.” . Gawat! Kami semua yang bersahabat waktu itu, minum sopi bersama-sama agar tiba pada penemuan identitas “gaul, jago, dsb”. Kami tersesat di sana dan lama sekali berada dalam kesadaran dan identitas palsu (identitas merasa : jago, gaul, hebat, dll) yang sebenarnya tidak pernah nyata, sampai sautu waktu kami sadar bahwa sebenarnya kami tidak sedang mencari melainkan sedang tersesat. Drop Out! Ah, menyesal sekali, coba saja waktu itu saya tahu dan sadar. Sudahlah, semua sudah lewat. Semoga jadi contoh buruk bagi adik-adik yang masih kuliah. Tentu bukan untuk ditiru!
Meskipun begitu saya tidak trauma minum sopi, karena saya sadar itu kekeliruan saya. Bagi saya, tidak salah jika kita mencari identitas dalam budaya minum sopi, asal jangan sampai lupa rambu-rambunya. Orang tatua sudah berikan petunjuk, tinggal kita berproses dalam situasi yang terus berubah. Celakanya adalah jika kita mewarisi budaya minum sopi yang menyimpang atau sudah terdistorsi oleh perubahan dan menjadikannya alat. Kenali budaya minum sopi dulu, baru minum sopi sebab bisa saja anda mewarisi budaya minum sopi yang terdistorsi ketika keadaan terus berubah.